>
>
>
Memasuki tahun 2026, tren traveling Gen-Z di Indonesia telah bergeser. Bukan lagi sekadar liburan ke satu kota selama seminggu, melainkan strategi multi-stop atau multi-destination. Bayangkan memulai pagi dengan croissant di kawasan Shibuya, Tokyo, lalu tiga hari kemudian sudah berburu street food di Myeongdong, Seoul. Seru? Pastinya. Estetik? Jelas. Tapi, ada satu musuh tak kasat mata yang siap merusak mood liburan kamu: selisih kurs mata uang.
Banyak traveler muda yang terjebak dalam euforia memesan tiket pesawat murah, namun lupa menghitung budget travelingnya, apalagi kalau bicara tentang betapa "berdarahnya" dompet mereka saat harus berurusan dengan konversi Rupiah (IDR) ke Yen (JPY) dan Won (KRW) secara mendadak. Jika kamu berencana liburan 2-3 kali tahun ini, saatnya berhenti menjadi traveler yang impulsif secara finansial dan mulai menjadi smart traveler.
Kesalahan umum yang sering dilakukan adalah mengandalkan kartu debit atau kredit IDR biasa saat bertransaksi di luar negeri. Tahukah kamu bahwa setiap kali kamu menggesek kartu di mesin EDC luar negeri, terjadi proses konversi yang berlapis? Seringkali, bank akan mengonversi mata uang lokal (misalnya JPY) ke Dollar AS (USD) terlebih dahulu, baru kemudian dikonversi kembali ke Rupiah.
Belum lagi biaya administrasi transaksi internasional yang berkisar antara 2% hingga 5% per transaksi. Jika dikumpulkan selama seminggu liburan, biaya "siluman" ini bisa setara dengan harga tiket masuk Tokyo DisneySea atau konser K-Pop di Seoul. Mengantre di money changer fisik pun bukan solusi ideal; selain membuang waktu liburan yang berharga, kurs di bandara atau area wisata biasanya jauh lebih tinggi (mencekik) dibandingkan kurs pasar.
Kunci utama agar tidak boncos adalah dengan melakukan strategi Lock the Rate. Sebagai Gen-Z yang melek digital, kamu tidak perlu menunggu hari keberangkatan untuk menukar uang. Mata uang asing seperti Yen dan Won sangat fluktuatif.
Gunakan teknik averaging: cicil beli valas sedikit demi sedikit setiap bulan saat kurs sedang melemah terhadap Rupiah. Dengan cara ini, kamu mendapatkan harga rata-rata yang jauh lebih murah daripada membeli sekaligus dalam jumlah besar saat kurs sedang melonjak. Memisahkan dana liburan ke dalam "pos dompet" valas juga membantu kamu disiplin, sehingga tabungan utama untuk kebutuhan harian di Indonesia tidak terganggu oleh pengeluaran self-reward saat liburan.
Di sinilah fitur Savings Valas dari aplikasi nobu Go hadir sebagai penyelamat. Nobu Bank memahami bahwa Gen-Z butuh segala sesuatu yang instan, transparan, dan terintegrasi dalam satu genggaman. Melalui Savings Valas, kamu bisa membuka rekening mata uang asing (seperti USD atau JPY) secara fully digital tanpa perlu repot datang ke kantor cabang.
Apa untungnya buat kamu?
Perlu diingat bahwa pada tahun 2026, Jepang dan Korea Selatan sudah sangat masif menerapkan sistem cashless. Membawa berlembar-lembar uang tunai di dompet tidak hanya terasa berat dan tidak praktis, tapi juga berisiko tinggi hilang atau kecopetan. Dengan menyimpan dana di Savings Valas, kamu memiliki akses digital yang lebih aman dan modern, sesuai dengan gaya hidup minimalist traveling yang sedang tren.
Liburan ke Jepang dan Korea adalah investasi untuk kesehatan mental dan pengalaman hidup. Namun, kecerdasan finansial dalam mengelola mata uang asing adalah apa yang membedakan traveler amatir dengan pro traveler. Jangan sampai sepulangnya dari luar negeri, kamu justru pusing melihat sisa saldo yang ludes hanya karena tidak pintar mengelola kurs.
Jangan biarkan kurs merusak mood liburan kamu! Buka fitur Savings Valas di aplikasi nobu Go sekarang, kunci kurs JPY terbaikmu hari ini, dan mulailah menabung untuk trip impianmu tanpa drama.
You will receive information about the latest news and also various attractive promo offers from NOBU Bank directly via your e-mail.
DONE