Nobu Bank - Bedanya Reksadana, Saham, dan Obligasi

Bedanya Reksadana, Saham, dan Obligasi


Bedanya Reksadana, Saham, dan Obligasi




Ketika kamu sudah mulai nabung dan mau naik level dengan berinvestasi, hal pertama yang mungkin kamu tanyakah adalah, “Instrumen investasi mana sih yang paling cepet cuan?” Instrumen investasi itu bisa diibaratkan seperti jika kamu sedang memilih kendaraan untuk liburan: mau yang ngebut tapi risikonya tinggi, atau lamban tapi lebih aman. Selain itu ada juga pilihan mobil yang sopirnya sudah disiapkan buat kamu.

Biar kamu nggak salah pilih "kendaraan" untuk masa depanmu, yuk kita bedah satu per satu perbedaan antara tiga instrumen investasi paling populer, yaitu saham, obligasi, dan reksadana dengan cara yang paling sederhana.

1. Saham: Menjadi "Pemilik" Perusahaan

Bayangkan ada sebuah kedai kopi yang sangat laris di kotamu. Kamu ingin ikut mencicipi keuntungannya, tapi kamu nggak punya waktu buat bikin kopi atau melayani pelanggan. Akhirnya, kamu menyetorkan sejumlah uang kepada pemiliknya sebagai modal, dan sebagai gantinya, kamu mendapatkan secarik kertas bukti kepemilikan. Itulah konsep dasar saham.

Saat kamu membeli saham, kamu sebenarnya membeli sebagian kecil kepemilikan sebuah perusahaan. Kalau perusahaan itu untung besar, kamu bisa dapat jatah yang disebut dividen. Selain itu, kalau perusahaan makin berkembang, harga "lembar" kepemilikanmu tadi bisa naik (capital gain).

Risikonya? Tentu ada. Kalau perusahaan rugi atau kinerjanya buruk, harga saham bisa merosot tajam. Bahkan jika perusahaan bangkrut, pemegang saham adalah pihak terakhir yang mendapatkan sisa aset. Jadi, saham ini cocok buat kamu yang punya profil risiko tinggi dan berencana investasi jangka panjang.

2. Obligasi: Menjadi "Pemberi Pinjaman"

Kalau saham bikin kamu jadi pemilik, obligasi bikin kamu jadi "si pemberi utang". Bedanya sangat kontras. Saat membeli obligasi, kamu sebenarnya meminjamkan uang kepada pihak lain, bisa pemerintah atau perusahaan swasta, dalam jangka waktu tertentu.

Sebagai imbalannya, mereka akan membayar bunga secara rutin yang sering disebut dengan istilah kupon. Di akhir masa perjanjian, uang pokok yang kamu pinjamkan akan dikembalikan seutuhnya.

Obligasi biasanya dianggap lebih aman daripada saham. Kenapa? Karena skema keuntungannya sudah jelas sejak awal. Kamu tahu berapa bunga yang akan didapat dan kapan uangmu kembali. Khusus untuk obligasi negara (seperti SBR atau ORI), keamanannya dijamin 100% oleh undang-undang. Ini pilihan pas kalau kamu ingin pendapatan tetap setiap bulan atau tiap kuartal tanpa harus deg-degan melihat fluktuasi pasar yang liar.

3. Reksadana: Investasi "Terima Beres"

Nah, kalau kamu merasa belum punya waktu buat menganalisis laporan keuangan perusahaan (untuk saham) atau modalmu belum cukup besar untuk beli obligasi tertentu, reksadana adalah solusinya.

Reksadana adalah wadah untuk mengumpulkan uang dari banyak investor kecil. Uang yang terkumpul ini kemudian dikelola oleh profesional yang disebut Manajer Investasi (MI). Si MI inilah yang bertugas memutar uang kamu ke berbagai instrumen, bisa ke saham, obligasi, atau deposito, tergantung jenis reksadana yang kamu pilih.

Ibaratnya, reksadana itu seperti makan di restoran yang sudah disiapkan oleh ahli masak yang handal. Kamu tinggal bayar, dan kokinya yang memilihkan bahan makanan terbaik buat kamu. Reksadana sangat disarankan untuk pemula karena kamu bisa mulai dari nominal yang sangat kecil, bahkan ada yang bisa dimulai dari Rp10.000 saja.

Mana yang Paling Cocok buat Kamu?

Memilih antara ketiganya bukan soal mana yang paling bagus, tapi mana yang paling pas dengan tujuan dan kondisi psikologismu.

Kalau kamu masih muda, punya banyak waktu untuk belajar, dan ingin mengejar pertumbuhan kekayaan yang signifikan, menyisihkan sebagian dana di saham bisa jadi langkah cerdas. Namun, pastikan kamu menggunakan "uang dingin" atau uang yang memang tidak akan dipakai dalam waktu dekat.

Jika tujuanmu adalah menyiapkan dana pendidikan anak dalam 3-5 tahun ke depan dan kamu ingin kepastian, obligasi atau reksadana pendapatan tetap adalah pilihan yang lebih bijak. Kamu nggak perlu pusing memikirkan berita ekonomi setiap hari karena pergerakannya cenderung lebih stabil.

Sedangkan buat kamu yang super sibuk dan nggak mau ribet, reksadana adalah jalan tengah terbaik. Kamu bisa melakukan diversifikasi (menyebar risiko) secara otomatis karena Manajer Investasi nggak mungkin menaruh semua uangmu di satu tempat saja.

Hal yang paling penting dalam investasi bukanlah seberapa besar modal awalmu, melainkan seberapa konsisten kamu menjalaninya. Jangan sampai kamu cuma jadi penonton saat orang lain mulai memanen hasilnya di masa depan. Kenali profil risikomu, pelajari instrumennya, dan mulailah dari angka yang membuatmu nyaman. Jadi, dari ketiga pilihan tadi, mana nih yang paling menarik perhatianmu untuk dicoba duluan?