>
Bayangkan kamu bisa memahami seluruh konsep keuangan pribadimu hanya dalam tujuh menit. Kedengarannya mustahil? Itulah yang berhasil dilakukan Tung Desem Waringin dalam webinar "Mastering Money in the Digital Age: Strategi Finansial untuk Generasi Muda" yang diselenggarakan OJK pada Kamis, 5 Maret 2026. Dalam hitungan menit, Pak Tung mengurai kerumitan finansial menjadi kerangka sederhana yang langsung bisa kamu terapkan.
Tung Desem Waringin adalah salah satu motivator dan pakar keuangan paling berpengaruh di Indonesia. Ia dikenal lewat pendekatannya yang lugas dan praktis dalam membahas kebebasan finansial — jauh dari teori yang membosankan. Tidak heran jika OJK memilihnya sebagai narasumber untuk membekali generasi muda dengan literasi keuangan yang relevan di era digital ini.
Dua Pilar Utama Kecerdasan Keuangan
Menurut Pak Tung, pondasi dari kecerdasan keuangan hanya bertumpu pada dua hal: income dan spending. Sederhana, tapi kedalaman maknanya seringkali luput dari perhatian banyak orang.
Pak Tung membagi income ke dalam tiga kategori. Pertama adalah active income — penghasilan yang kamu dapatkan dengan bekerja. Ini yang paling umum, tapi juga paling rentan: begitu kamu berhenti bekerja, income pun berhenti.
Kedua adalah passive income — penghasilan yang masuk meski kamu tidak aktif bekerja. Contohnya adalah paper assets (seperti saham dan reksa dana), properti sewa, atau bisnis yang sudah berjalan otomatis seperti laundry dan minimarket. Inilah target yang seharusnya kamu kejar jika ingin punya kebebasan waktu sekaligus finansial.
Ketiga adalah portfolio income, yaitu keuntungan dari kenaikan nilai aset atau capital gain. Misalnya, harga saham yang kamu beli naik signifikan, bunga yang kamu dapatkan dari menabung di nobu GoMax Savings atau properti yang kamu miliki nilainya melonjak. Ini bukan penghasilan rutin, tapi bisa sangat besar dampaknya jika dikelola dengan cermat.
Di sisi pengeluaran, Pak Tung mengidentifikasi empat jenis spending yang wajib kamu pahami.
Produktif adalah pengeluaran yang secara langsung mendongkrak income kamu — misalnya membeli alat untuk usaha atau mengikuti pelatihan yang membuka peluang kerja baru.
Konsumtif adalah pengeluaran yang langsung habis tanpa meninggalkan nilai. Ini terbagi tiga: spending langsung habis (makan, baju, atau pergi berlibur), passive spending (cicilan, tagihan listrik, langganan aplikasi), dan invisible spending — yang paling sering tidak disadari, yaitu penurunan nilai aset akibat inflasi.
Yang menarik adalah dua kategori berikutnya. Ada pengeluaran yang tampaknya produktif, padahal konsumtif — misalnya membeli gadget mahal dengan dalih "buat kerja", padahal nilainya tidak pernah balik modal. Di sinilah banyak orang tertipu oleh rasionalisasi mereka sendiri.
Sebaliknya, ada juga yang tampaknya konsumtif, padahal produktif. Contoh terbaiknya adalah investasi "leher ke atas" — buku, kursus, seminar — yang meningkatkan kapasitas berpikirmu. Atau bergaul dengan orang-orang sukses, yang meskipun terasa seperti pengeluaran sosial biasa, sesungguhnya memperluas perspektif dan jaringanmu secara eksponensial.
Refleksi untuk Generasi Muda
Pesan Pak Tung sebenarnya tegas: masalah keuangan bukan soal seberapa besar gajimu, melainkan seberapa cermat kamu memahami aliran uangmu. Mulailah dengan memetakan income dan spending-mu hari ini. Tanyakan pada dirimu — apakah pengeluaranmu benar-benar produktif, atau hanya terasa produktif?
Kecerdasan keuangan bukan privilege orang kaya. Itu adalah kebiasaan yang bisa kamu bangun mulai sekarang.
You will receive information about the latest news and also various attractive promo offers from NOBU Bank directly via your e-mail.
DONE