>
>
>
Pernahkah kamu merasa baru saja menerima gaji, tapi bingung harus menyisihkannya ke mana? Di satu sisi, kamu ingin sekali membeli ponsel baru atau liburan ke Bali. Di sisi lain, ada perasaan cemas jika tiba-tiba motor rusak atau ada keperluan mendesak yang tidak terduga.
Kebanyakan dari kita hanya mengenal istilah "menabung". Pokoknya, ada uang sisa, simpan di bank. Padahal, dalam manajemen keuangan profesional, mencampuradukkan semua uang dalam satu rekening tanpa tujuan yang jelas adalah resep menuju kegagalan finansial. Memahami perbedaan antara Dana Darurat dan Tabungan adalah langkah pertama untuk menjadi orang dewasa yang melek finansial.
Dana Darurat: Si "Ban Serep" yang Menyelamatkanmu
Bayangkan kamu sedang melakukan perjalanan jauh dengan mobil. Dana darurat adalah ban serep. Kamu tidak berharap ban mobilmu bocor, tapi jika itu terjadi di tengah jalan tol yang sepi, ban serep itulah yang membuatmu tidak terlantar.
Dana darurat disediakan khusus untuk peristiwa yang tidak terduga dan mendesak. Contohnya:
Kunci dari dana darurat adalah likuiditas (mudah dicairkan). Jangan simpan dana darurat di saham atau properti yang butuh waktu lama untuk dijual. Pilihan terbaik adalah:
Tabungan: Si "Bensin" Menuju Impian
Jika dana darurat adalah ban serep, maka tabungan adalah bensin. Kamu mengumpulkannya secara sadar untuk menggerakkanmu menuju tujuan atau destinasi tertentu.
Berbeda dengan dana darurat, tabungan bersifat terencana dan memiliki target waktu. Kamu menabung karena ada sesuatu yang ingin kamu beli atau lakukan, seperti:
Karena tujuannya beragam, tempat menyimpannya pun bisa disesuaikan dengan jangka waktunya.
Perbandingan Utama: Dana Darurat vs. Tabungan
Agar lebih mudah memahami perbedaannya, mari kita bedah berdasarkan tiga indikator utama:
Mana yang Harus Didahulukan?
Ini adalah pertanyaan sejuta umat: "Saya baru mulai kerja, gaji pas-pasan, mending kumpulin dana darurat dulu atau tabungan buat beli motor?"
Secara prinsip keuangan yang sehat, Dana Darurat adalah fondasi. Kamu tidak bisa membangun atap yang megah (keinginan/investasi) di atas fondasi yang rapuh. Tanpa dana darurat, satu kali saja kamu mengalami musibah, seluruh tabungan keinginanmu akan ludes untuk menutupi biaya tersebut. Bahkan yang lebih buruk, kamu mungkin terpaksa berutang dengan bunga tinggi (seperti pinjol).
Namun, secara psikologis, hanya menabung untuk dana darurat selama berbulan-bulan tanpa boleh membeli apa pun bisa membuatmu stres dan akhirnya "balas dendam" dengan belanja gila-gilaan.
Jika kamu ingin melakukan keduanya, gunakan rasio 70:30.
Contoh: Kamu punya sisa uang Rp1.000.000 per bulan untuk ditabung. Alokasikan Rp700.000 untuk Dana Darurat dan Rp300.000 untuk Tabungan Keinginan.
Dengan cara ini, dana daruratmu tetap tumbuh sebagai prioritas, tapi kamu tetap punya progres untuk mencapai impianmu. Namun, strategi ini hanya disarankan jika kamu sudah memiliki dana darurat setidaknya 1 bulan pengeluaran sebagai "pengaman awal".
Berapa Jumlah Ideal yang Harus Dikumpulkan?
Jangan bingung dengan angka yang terlalu besar di awal. Kamu bisa membangunnya secara bertahap:
Mengatur uang bukan tentang seberapa besar gajimu, tapi seberapa disiplin kamu membaginya. Dana darurat menjaga kamu tetap tegak saat badai datang, sementara tabungan membuat perjalanan hidupmu lebih menyenangkan.
Langkah nyata yang bisa kamu lakukan hari ini:
Ingat, finansial yang sehat bukan berarti kamu tidak boleh bersenang-senang. Justru dengan adanya dana darurat yang kuat, kamu bisa bersenang-senang dengan lebih tenang tanpa rasa takut akan hari esok.
Anda akan menerima informasi mengenai berita terbaru dan juga berbagai penawaran promo menarik Bank NOBU langsung melalui e-mail Anda.
SELESAI